Jepara – Lintas Tribun
Usia ke-35 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara merupakan momentum penting untuk menegaskan peran perguruan tinggi sebagai penggerak transformasi sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Di tengah arus globalisasi, revolusi industri, dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), kampus tidak lagi cukup menjadi pusat pembelajaran, tetapi harus menjadi pusat riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan daerah sekaligus bersaing pada tingkat nasional dan global.
Hal tersebut diungkapkan Nur Hidayat Ketua Komisi C DPRD Jepara dan Alumni UNISNU Jepara, dengan anugrah kekayaan sumber daya yang sangat beragam. Potensi maritim, pertanian, kehutanan, mebel dan ukir yang telah mendunia, tenun Troso sebagai warisan budaya, serta ribuan pelaku UMKM merupakan modal strategis bagi pembangunan daerah.
“Di sisi lain, berkembangnya industri penanaman modal asing, terutama sektor garmen dan manufaktur, membuka peluang pertumbuhan ekonomi sekaligus menghadirkan tantangan berupa peningkatan kualitas tenaga kerja, perubahan budaya kerja, ketimpangan keterampilan, hingga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya, Selasa (4/8/26)
Dituturkannya, UNISNU Jepara memiliki posisi strategis sebagai agent of change. Melalui pendekatan social engineering, sebagaimana dikembangkan Karl R. Popper, perguruan tinggi dapat menghadirkan perubahan sosial yang bertahap, berbasis bukti ilmiah, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata masyarakat. Riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus menghasilkan inovasi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jepara.
Lebih jauh, pembangunan daerah memerlukan kolaborasi lintas sektor. Model Triple Helix dari Henry Etzkowitz dan Loet Leydesdorff menegaskan bahwa kemajuan suatu wilayah lahir dari sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah. Dalam konteks Jepara, UNISNU dapat menjadi simpul kolaborasi riset yang menghubungkan kebutuhan industri mebel, ukir, garmen, pertanian, perikanan, dan UMKM dengan kebijakan pemerintah daerah serta inovasi akademik.
Menurutnya, Kolaborasi tersebut perlu diperluas menjadi Quadruple Helix, yaitu melibatkan masyarakat sipil, komunitas budaya, pesantren, media, dan pelaku ekonomi kreatif. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga identitas budaya Jepara, memperkuat kohesi sosial, dan memastikan bahwa inovasi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Konsep knowledge-based economy yang dikemukakan Peter F. Drucker menempatkan pengetahuan sebagai sumber utama keunggulan ekonomi. Dalam perspektif ini, kekuatan utama UNISNU bukan semata-mata gedung atau jumlah mahasiswa, melainkan kemampuan menghasilkan riset unggulan, teknologi tepat guna, hak kekayaan intelektual, inkubasi bisnis, serta sumber daya manusia yang inovatif. Kampus harus menjadi tempat lahirnya solusi bagi pengembangan industri mebel berkelanjutan, hilirisasi hasil pertanian, konservasi hutan, ekonomi maritim, digitalisasi UMKM, hingga peningkatan daya saing tenun Troso di pasar internasional.
Pada saat yang sama, paradigma Entrepreneurial University yang diperkenalkan Burton R. Clark menegaskan bahwa universitas modern harus mampu menciptakan nilai ekonomi melalui inovasi, kewirausahaan, dan kemitraan strategis.
“Peran tersebut sangat relevan bagi UNISNU Jepara dalam mendampingi pelaku UMKM, koperasi, industri kreatif, serta memperkuat ekosistem ekonomi halal berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ucap Nur Hidayat.
Memasuki usia ke-35, UNISNU Jepara diharapkan menjadi kampus yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, industri, budaya, agama, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan yang berkelanjutan. Kampus bukan hanya mencetak lulusan, melainkan melahirkan inovator, peneliti, wirausahawan, pemimpin masyarakat, dan intelektual yang mampu membawa Jepara menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan lokal dan inovasi global.(Ana Triana)












