Adu Mulut dengan Ormas di Jati Wetan Jadi Sorotan, Sugiyanto Bantah Tudingan Mabuk

KUDUS – lintastribun.id

Sebuah video yang memperlihatkan adu mulut antara perangkat Desa Jati Wetan dengan sejumlah anggota organisasi masyarakat (ormas) ramai diperbincangkan di media sosial. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok Teguh Suroso dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat.

Dalam video itu terlihat seorang perangkat Desa Jati Wetan, Sugiyanto, terlibat perdebatan dengan sejumlah orang yang disebut berasal dari salah satu ormas. Perdebatan terjadi saat Sugiyanto berupaya menghentikan pemasangan banner atau spanduk yang dinilainya berpotensi memicu provokasi di tengah masyarakat.

Menanggapi video yang beredar, Sugiyanto memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut. Ia menjelaskan kejadian berlangsung pada Kamis, (6/8/26) malam, di depan Pasar Saerah, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

“Saya selaku kepala dusun memiliki tugas menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. Malam itu saya sedang berkeliling wilayah menggunakan sepeda motor menuju balai desa. Saat melintas di depan Pasar Saerah, saya melihat sekitar 20 orang lebih membawa banner dan spanduk yang menurut saya bernada provokatif kepada masyarakat Jati Wetan,” ujarnya, Salasa (18/8/26).

Menurut Sugiyanto, dirinya kemudian mengingatkan kelompok tersebut agar tidak memasang spanduk di wilayah Jati Wetan. Namun setelah mengetahui mereka berasal dari salah satu ormas, terjadi perdebatan terkait kegiatan yang dilakukan.

“Saya hanya mengingatkan. Kemudian terjadi adu argumen terkait tupoksi ormas yang menurut saya diduga melenceng dari tugas dan fungsinya,” katanya.

Dalam video yang beredar, Sugiyanto juga disebut-sebut dalam kondisi mabuk. Tuduhan tersebut dibantah keras olehnya.

“Malah dari oknum ormas tersebut bilang saya mabuk. Padahal saya tidak terpengaruh minuman keras. Saya ini mantan Ketua Geram (Gerakan Anti Madat) yang sering melakukan sosialisasi terkait bahaya minuman keras dan narkoba kepada masyarakat. Tidak mungkin saya mabuk,” tegasnya.

Ia menambahkan, karakter dirinya memang dikenal tegas ketika menghadapi persoalan yang dianggap dapat mengganggu keamanan dan ketertiban wilayah Jati Wetan.

“Saya hanya khawatir jika ada pihak yang membuat provokasi kepada masyarakat. Jangan sampai warga terpancing dan datang ke lokasi sehingga terjadi keributan atau pertengkaran. Itu sangat membahayakan keamanan desa kami,” lanjutnya.

Terkait isu yang berkembang mengenai proses tukar menukar aset desa yang belakangan menjadi sorotan, Sugiyanto menegaskan seluruh proses telah dilakukan sesuai aturan yang berlaku dan mendapatkan pendampingan hukum.

“Terkait proses tukar menukar sudah kami lalui sesuai aturan dan ada pendampingan hukum. Kalau ada isu yang menyudutkan Desa Jati Wetan terkait korupsi hingga ratusan miliar rupiah, uangnya dari mana? Kami berharap melalui proses tukar menukar ini Desa Jati Wetan menjadi desa yang lebih mandiri dengan pendapatan yang lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Wetan, Agus Susanto, turut memberikan tanggapan terkait peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya menginginkan situasi desa tetap aman dan kondusif.

“Kami ingin desa kami kondusif dan aman. Apa yang dilakukan Mas Giyanto benar sebagai seorang perangkat desa yang memiliki tugas mengondisikan wilayahnya. Jangan sampai ada sesuatu yang ramai di wilayahnya tetapi dia tidak mengetahui,” ujar Agus. (AD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *