Berita  

Dosen Pergerakan UIN Sunan Kudus Raih Maheswara Utama BPIP, Menginspirasi dari Pesantren ke Panggung Nasional

KUDUS – Lintastribun.id

Kiprah dunia pesantren dalam merawat keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan kembali memperolehpengakuan di tingkat nasional. Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., Dosen Filsafat UIN Sunan Kudus yang juga Sekretaris Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Kudus dan Founder Pesantren Mahasiswa Berdaya Prisma Quranuna Kudus, resmi ditetapkan sebagai Maheswara KualifikasiUtama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Angkatan I Tahun 2025.

Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan Kepala BPIP Nomor 38 Tahun 2025 tentang Maheswara Kualifikasi Utama Angkatan I Tahun 2025. Dari ratusan peserta yang berasal dariberbagai kementerian, lembaga, perguruan tinggi, dan institusipendidikan di seluruh Indonesia, hanya 81 orang yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan seleksi, pelatihan, evaluasi, dan sertifikasi hingga memperoleh predikatMaheswara Utama.

Capaian ini tidak hanya menjadi prestasi akademik personal, tetapi juga merepresentasikan kontribusi kalangan pesantrendan Nahdlatul Ulama dalam penguatan ideologi Pancasila sebagai titik temu kebangsaan Indonesia.

Proses Panjang dan Seleksi Nasional

Perjalanan menuju Maheswara Utama dimulai sejak tahun2024 melalui proses seleksi administrasi nasional yang sangat kompetitif. Peserta yang dinyatakan lolos kemudiandiwajibkan mengikuti Training of Trainers (ToT) MaheswaraKualifikasi Utama BPIP yang berlangsung pada pertengahantahun 2025.

Selama tiga hari pelatihan intensif, para peserta mendapatkanpembekalan dari para pakar BPIP, akademisi, dan profesorbidang Pancasila serta kebangsaan. Materi yang diberikanmencakup substansi Pembinaan Ideologi Pancasila, metodologi pendidikan dan pelatihan, teknik fasilitasi, hinggaevaluasi pembelajaran.

Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta masih harusmenjalani tahapan evaluasi dan verifikasi kompetensi yang berlangsung selama beberapa bulan. Hasilnya diumumkanpada tahun 2026, dan peserta yang memenuhi seluruh standarkompetensi ditetapkan sebagai Maheswara serta memperolehSertifikat Pengajar Pendidikan dan Pelatihan PembinaanIdeologi Pancasila.
Sertifikat resmi tersebut mulai diterima para MaheswaraUtama melalui pengiriman pos menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

Maheswara: Pengajar Pancasila Bersertifikat Nasional

Istilah Maheswara mungkin masih terdengar asing bagisebagian masyarakat. Dalam nomenklatur BPIP, Maheswaramerupakan pengajar profesional yang telah memenuhi standarkompetensi untuk mengampu Pendidikan dan PelatihanPembinaan Ideologi Pancasila.

Keberadaan Maheswara menjadi bagian dari strategi nasionaluntuk memperkuat kualitas pendidikan Pancasila melaluipengajar yang memiliki kompetensi substansial, pedagogis, dan ideologis yang terstandar.
Sebagai Maheswara Kualifikasi Utama, Dr. Nur Said memperoleh kompetensi utama dalam bidang Pokok-PokokPikiran Pancasila, yang sejalan dengan kapasitas akademiknya sebagai dosen filsafat dan pengkaji nilai-nilaikebangsaan.

Representasi Pesantren dan Islam Moderat

Menariknya, capaian ini juga memperlihatkan bagaimanatradisi pesantren tetap relevan dalam menjawab tantangankebangsaan kontemporer. Selain aktif sebagai dosen filsafat di UIN Sunan Kudus, Dr. Nur Said juga alumni PergerakanMahasiswa Indonesia (PMII) saat mahasiswa sebagai KetuaRayon PMII Fakultas Tarbiyah IAIN (sekarang UIN) SunanKalijaga Yogyakarta (1996-1997) yang sejak awal komitmenmengembangkan berbagai program penguatan Islam moderat, literasi keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Ia juga merupakan anggota Asosiasi Dosen Pergerakan(ADP), Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama(FKUB) di Kudus dan Khadimul Ma’had PesantrenMahasiswa Berdaya Prisma Quranuna Kudus, sebuahkomunitas pesantren mahasiswa yang mengintegrasikantradisi keilmuan pesantren dengan semangat inovasi, kewirausahaan, dan pemberdayaan generasi muda.

Melalui Prisma Quranuna, nilai-nilai Islam tidak hanyadiajarkan dalam bentuk penguasaan teks keagamaan, tetapijuga diterjemahkan dalam praktik sosial yang transformatifmelalui penguatan literasi, pengembangan kewirausahaansosial, pengabdian masyarakat, moderasi beragama, hinggapenguatan karakter kebangsaan.

Bagi Nur Said, pesantren dan Pancasila bukanlah dua entitasyang saling berhadapan, melainkan dua kekuatan moral yang dapat saling menguatkan dalam membangun Indonesia yang damai dan berkeadaban.

“Pesantren sejak awal telah menjadi rumah bagi nilai-nilaikebangsaan. Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari keimanan. Karena itu, penguatanPancasila sejatinya juga merupakan bagian dari penguatannilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Islam Toleran dan Transformatif

Selama ini, Dr. Nur Said dikenal aktif mengembangkangagasan Islam toleran dan transformatif, termasuk melaluiormas NU, Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan FKUB di Kudus, yakni pendekatan keislaman yang tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi juga hadir untuk menjawab persoalankemanusiaan, kebangsaan, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di lingkungan UIN Sunan Kudus, pendekatan tersebutdiwujudkan melalui berbagai aktivitas akademik, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pendampingan mahasiswadalam membangun kepemimpinan sosial yang berlandaskannilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Karena itu, penetapan dirinya sebagai Maheswara Utama BPIP dipandang sebagai bentuk sinergi antara tradisiintelektual kampus, kearifan pesantren, dan komitmenkebangsaan dalam satu tarikan napas.

Menguatkan Pancasila melalui Pendidikan
Berdasarkan Keputusan Kepala BPIP Nomor 60 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Sertifikasi Pengajar Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila, para Maheswaramemiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraanpendidikan dan pelatihan Pancasila pada berbagai lembaga, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan dan pelatihan, organisasikemasyarakatan, hingga berbagai institusi lainnya.

Ke depan, keberadaan Maheswara diharapkan dapatmemperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila secara lebihsubstantif, dialogis, dan kontekstual, terutama di tengahberbagai tantangan kebangsaan yang terus berkembang.

Bagi UIN Sunan Kudus, capaian ini menjadi bukti bahwaperguruan tinggi keagamaan Islam tidak hanya berkontribusidalam pengembangan ilmu keislaman, tetapi juga aktifmengambil peran dalam merawat Indonesia melaluipendidikan, moderasi beragama, dan penguatan ideologiPancasila.

Dari ruang filsafat, dari tradisi pesantren, dan dari semangatNahdlatul Ulama, kini kontribusi tersebut menjangkaupanggung nasional melalui amanah sebagai MaheswaraUtama BPIP—pengajar dan penggerak nilai-nilai Pancasila untuk Indonesia yang lebih beradab, toleran, dan berkeadilan. (AD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *