KUDUS JATENG ,lintastribun.id/
Tak terbantahkan Duku Sumber asal Dukuh Sumber RT 1 RW 5, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kembali menjadi perbincangan. Buah lokal yang dikenal memiliki cita rasa manis dan tekstur lembut ini dinilai memiliki kualitas premium sehingga menyasar pasar kelas menengah ke atas, termasuk kalangan pejabat dan konsumen khusus.
Pemilik kebun, Sugeng Riyadi, mengungkapkan bahwa Duku Sumber Hadipolo sejak dulu dikenal memiliki keunggulan dibandingkan duku dari daerah lain. Rasa manisnya tetap terjaga meski dipanen di musim hujan, terlebih saat musim kemarau.
"Hal inilah yang membuat buah tersebut memiliki pelanggan tetap dari berbagai kalangan," katanya.
Menurutnya, Duku Sumber kerap menjadi incaran para pejabat, mulai dari aparatur dinas, camat, hingga kepala desa. Bahkan, sejak puluhan tahun lalu, duku dari wilayah tersebut sering dijadikan buah pilihan untuk konsumsi pribadi maupun oleh-oleh.
Ia menyebut, duku ini pernah juga meraih juara tingkat provinsi pada era 1980-an, sehingga namanya sudah dikenal luas. Dalam satu musim panen, Sugeng memilih menjual hasil panennya secara mandiri. Ia tidak melepas seluruh hasil kebun kepada tengkulak atau bakul, meski kerap mendapat tawaran dengan nilai besar.
Lanjutnya, menjual langsung kepada konsumen memberikan kepuasan tersendiri, selain itu nilai tambah ekonominya juga lebih terasa.
“Kalau dijual sendiri, selain bisa berbagi ke saudara dan teman, hasilnya juga lebih nyata,” ujarnya.
Panen selama 7 hari terakhir, Sugeng mencatat total penjualan mencapai satu kwintal (100 kilogram) dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Jika dikalkulasikan, omzet yang diperoleh sudah mencapai jutaan rupiah dan panen masih berlangsung.
Ia memperkirakan total hasil panen mencapai sekitar dua kuintal. Sebagian hasil panen juga dibagikan kepada kerabat dan lingkungan sekitar. Penjualan dilakukan melalui media sosial dengan sistem pesan antar atau COD ke sejumlah wilayah, seperti Kaliwungu, Loram, dan Terban.
"Konsumen juga diperbolehkan datang langsung ke rumah untuk membeli dan mencicipi sepuasnya," bebernya.
Kemudian untuk Duku Sumber Hadipolo tergolong langka karena usia pohonnya sudah mencapai 38–40 tahun. Pohon tersebut ditanam dan dirawat sendiri oleh Sugeng. Ia mengakui baru benar-benar serius merawat pohon duku sejak 2022. Sebelumnya, perawatan dilakukan seadanya.
Dalam perawatannya, Sugeng menjelaskan bahwa duku yang tumbuh di musim kemarau membutuhkan suplai air yang cukup agar buah cepat besar dan tidak mudah rontok. Untuk pemupukan, ia menggunakan cara organik, seperti daun lamtoro, serta pupuk urea sesuai kebutuhan.
Mulai perawatan konsisten, 5 – 6 bulan , proses alami daun dukunya mulai rontok pada menjelang musim kemarau tiba di bulan Juni-Juli, selanjutnya setelah awal Bulan Agustus suplai air melebihi cukup sampai,nampak bunga(mata nyunyu) hingga bisa di panen buah Dukunya.
"Untuk mengatasi Hama seperti cabuk, semut, mengunakan pestisida. agar warna kulit buah tetap terjaga cerah dan segar ," imbuh Sugeng.
Setelah buah sudah menguning dan tua di batang atau ranting pohon bisa di mulai awal panen hingga selesai
Panen duku biasanya berlangsung hingga menjelang tahun baru, bahkan terkadang berakhir sebelum pergantian tahun.
"Meski sering mendapat banyak tawaran dari tengkulak ( bakul) dengan harga bervariasi,tinggi dan rendah , Sugeng memilih mempertahankan kualitas dan jalur penjualan langsung agar nilai Duku Sumber tetap terjaga sebagai buah premium khas Kudus."pungkasnya.(SR)
